InvesYuk

Imbal Hasil 5,9% Per Tahun, SR017 Jadi Pilihan Investasi Menarik

Imbal Hasil 5,9% Per Tahun, SR017 Jadi Pilihan Investasi Menarik

MOMSMONEY.ID - Pemerintah kembali menawarkan SBN Ritel seri SR017 pada 19 Agustus hingga 14 September 2022. Tawaran kupon SR017 sebesar 5,9% dan menjadi kupon tertinggi selama tahun berjalan 2022. 

Tim Bareksa Insight dalam riset Senin (22/8), menilai instrumen ini bisa menjadi investasi yang cocok bagi investor di semua jens profil risiko karena sifatnya yang aman dijamin negara. 

Selain itu, meski bunga deposito cenderung stagnan kupon SBN ritel tahun ini cenderung konstan mengalami kenaikan. Hal ini menyebabkan selisih antara kupon SBN dengan deposito jadi semakin menarik. 

Investor juga tidak perlu menunggu hingga jatuh tempo 3 tahun untuk melakukan penjualan SBN seri SR017. Minimum pembelian cukup terjangkau yakni Rp 1 juta dan maksimum Rp 5 miliar. 

Namun saat ini kondisi pasar saham dan obligasi dalam negeri masih berfluktuasi tinggi karena isu global yang belum usai. Bank Sentral Amerika masih akan melanjutkan kenaikan tingkat suku bunga acuannya hingga akhir tahun dan dapat menyebabkan gejolak harga di pasar modal. 

Untuk mengimbangi risiko fluktuasi tersebut, investor perlu melakukan diversifikasi dengan aset yang fluktuasinya rendah atau lebih stabil seperti SR017. Investor juga mendapatkan penghasilan kupon setiap bulannya. 

Baca Juga: Saran Investasi Reksadana Saat Inflasi Global Mereda

Selain berinvestasi di SR017, investor juga dapat mempertimbangkan untuk melakukan strategi investasi di reksadana. Bagi investor dengan profil risiko agresif dapat wait and see terlebih dulu dan cermati reksadana saham dan indeks basis saham kapitalisasi besar jika indeks harga saham gabungan (IHSG) mengalami penurunan. 

Sementara itu, investor dengan profil risiko moderat dapat tetap melakukan akumulasi secara bertahap di reksadana pendapatan tetap basis obligasi korporasi. 

Lalu, untuk semua jenis profil risiko ada baiknya melakukan diversifikasi yang cukup di reksadana pasar uang karena fluktuasi pasar saham dan obligasi diproyeksikan masih tinggi melihat gejolak risiko global. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News