CLOSE [X]
ads

Untung Rugi Melayani Pesanan Produk White Label

Reporter: Fransiska Firlana
Selasa, 14 Juni 2022 | 15:12 WIB
Untung Rugi Melayani Pesanan Produk White Label

ILUSTRASI. White label. 


MOMSMONEY.ID - JAKARTA. Pelaku usaha sudah tidak asing dengan istilah white label dan private label. Keduanya merupakan sistem pemesanan barang yang lazim diberikan produsen bagi pembelinya, tanpa mencantumkan merek produsen.

Nah, bedanya, barang  white label boleh diberikan ke banyak pemesan, alias tidak terikat kontrak dengan satu pihak. Sementara untuk private label, produsen secara ekskusif membuat barang sesuai spesifikasi pemesan dan terikat kontrak waktu.  

Sistem kerjasama pemesanan  dilakukan secara business to business. Seller  yang menggunakan kerjasama private label misalnya dilakukan jaringan minimarket dan supermarket. 

Seller di sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) biasanya memanfaatkan white label karena modal tidak besar dan kontrak tidak mengikat.

Lantas bagi produsen di sektor UMKM apakah order white label ini bisa menjadi peluang?  

Pemilik Ania Cake, Ani Kurniasih mengaku tertolong dengan sistem white label. Produsen aneka kue bolu ini mengaku mulai membuka layanan order white label tahun 2021.

"Waktu itu hampir semua bisnis  tidak bagus, ketika ada yang naksir kue bolu saya dan minta dibuatkan persis tanpa menggunakan merek,  demi cashflow saya layani," jelas Ani yang buka usaha kue  tahun 2017.

Ia membuat bolu pisang, bolu tape, brownies, cheese cake, bolu nangka, bolu cempedak, dan aneka kue kering seperti nastar, puteri salju, lidah kucing, dan kastangel.

Saat ini ada  satu toko yang rutin order white label,  minimal 20 boks sampai 30 boks setiap tiga hari sekali. Nia menerapkan harga Rp 28.000 per boks.

Untuk harga jual, Nia menyerahkan sepenuhnya pada pihak pemesan. Setahu Nia, pemesannya itu menjual bolu buatannya sama dengan harga jual eceran yang diberlakukan Nia yaitu Rp 35.000 per boks.

Dia sendiri  menjual 50 hingga 80 boks bolu sehari. Saat ini, kata Nia, penjualannya  belum semoncer sebelum pandemi, saat ia bisa melepas ratusan boks kue sehari.  

Nia  mengaku bangga puluhan kue buatannya bisa terpampang di etalase toko  orang lain, sekalipun tidak bermerek  Ania Cake. "Selain ada pemintaan secara rutin, dengan sistem ini saya kan jadi tidak repot promosi," katanya.

Sistem white label  akan terus dibuka Nia sekalipun  produknya punya keterbatasan. Produk kue bolu yang merupakan kue basah, punya masa kadaluarsa singkat, tak sampai seminggu.

Jadi, jangkauan pasarnya masih terbatas di seputar tempat  Nia yaitu Bogor. Budi Rochman Yanti, pemilik usaha Rochsum Culinary mengaku tak tertarik dengan peluang order white label.

Sekalipun peyek buatannya yang bermerek Peyek Oemah Koe atau yang disingkat Peyek OK banyak diminati seller.

"Kalau mau beli harga reseller silakan. Tapi kalau mau pesan lepas merek Peyek Oemah Koe ya saya belum bisa," kata Yanti, penerus usaha peyek kedua orang tuanya yang dirintis tahun 2007.

Yanti mengaku, sejak pandemi, permintaan peyeknya merosot. Namun, hal itu tidak serta merta bikin Yanti menghalalkan segala cara untuk mendapatkan omzet. Termasuk menerima tawaran white label yang, menurut Yant,  berpotensi mematikan merek peyeknya.

"Saya ingin Peyek Oemah Koe ini dikenal sebagai brand peyek yang menjangkau segmen B plus alias menengah atas. Karena itu saya harus menjaga ciri khas  dengan citarasa yang  beda," kata Yanti.

Yanti melihat, belum ada cemilan seperti peyek,  yang  dibuat premium menjangkau segmen menengah atas. Untuk itu dia menjaga kualitasnya, selain citarasa juga kerenyahannya.   

Untuk mencapai targetnya itu, Yanti mencoba berbagai jurus. Di antaranya aktif ikut bazaar atau pameran sekaligus memperbaiki kemasannya.

“Jadi di saat pandemi, ketika omzet turun, saya tetap produksi dan terus membaiki diri sekaligus  branding," kata Yanti yang aktif ikut bazaar yang diselenggarakan swasta maupun pemerintah.

Dengan jurus itu, Yanti mampu mengangkat citra Peyek Oemah Koe dengan masuk ke 9 toko ritel modern milik perorangan. Yanti mengambilalih usaha peyek sekitar tahun 2014.

Sampai saat itu, peyeknya belum punya merek.  Usaha masih dikelola secara tradisional. Produksi, kemas, lalu pasok ke warung. Ada 145 warung yang sudah menjadi langganan.

Saat mengambil alih usaha, Yanti melihat pebisnis peyek kelas warung sudah banyak. Jadi, ia mencoba target market yang berbeda yaitu segmen menengah atas.

Dia lantas belajar produksi dan mengembangkan kualitas, varian rasa, dan kemasan. Tahun 2015, ia menempelkan merek Berkah Rochsum. Ia juga mengurus berbagai izin seperti sertifikasi halal dan izin  keamanan produk.  

"Dalam satu pelatihan, saya mendapat ilmu kalau sebaiknya bendera usaha dan merek produk dibedakan. Akhirnya tahun 2019 saya bikin kemasan dengan merek produk Peyek Oemah Koe," katanya.

Yanti mengaku, acap kali pameran sering mendapat order white label. Namun dia tetap tak goyah sekalipun usahanya sedang tidak bagus.

Baca Juga: Tips Maksimalkan Cuan di Momen Spesial

Pertimbangan matang

Dengan target market menengah atas, peyek yang diproduksi Yanti harus melalui kurasi jika ingin menembus toko-toko modern.

"Jika nanti saya buka white label, bagaimana bisa dapat kurasi baik. Produk saya akan dinilai tidak ada ciri khas karena citarasanya sama dengan merek lain yang notabene  buatan saya," kata Yanti yang menjual peyeknya  Rp 20.000-Rp 30.000 untuk 80 gr.

Selama ini Yanti hanya membuka layanan white label untuk katering. Alasannya, secara pemasaran berbeda dan tidak dijual secara umum.

Sementara itu, Ani  mengaku tetap ada sisi idealis yang diterapkannya. "Untuk bolu cempedak dan bolu nangka, saya tak melayani white label," kata Ani. Harapan dia, jika melihat Ania Cake, orang tetap ingat bolu cempedak dan bolu nangka yang jadi ciri khasnya.  

"Dua produk ini tidak bahkan belum ada di pasaran. Jadi ini yang akan jadi ciri khas merek saya," katanya.

Menurut Hermawati Setyorinny, Ketua Umum Asosiasi Industri Mikro Kecil dan Menengah Indonesia (AKUMANDIRI), melayani order white label bisa jadi alternatif bisnis bagi pelaku usaha.

Untuk mengambil pilihan ini, tentu pelaku UMKM harus mempertimbangkan dengan matang. Faktor pertimbangan sebelum melayani order white label antara lain dampak dari usaha dan target bisnis ke depan.

"Jika dengan white label dia bisa merasakan omzet yang besar dan berkelanjutan ya tidak apa-apa dilakukan. Tapi jika dia punya target bisnis  memiliki brand yang besar,  harus dipertimbangkan lagi untuk membuka white label," kata Rinny.

Kalau akhirnya tidak bisa mendapat klien atau pembeli yang berkelanjutan,  usaha ini tidak akan berkembang. "Secara brand tidak kuat dan order white label tidak berkelanjutan  ini akan menghambat usaha," jelas Rinny.

Jika Anda pilih fokus  membesarkan merek sendiri, sebaiknya serius membaiki produk, kemasan, dan marketing kuat. "Untuk menjangkau pasar luar dan orderan yang kontinyu, bisa buka keagenan atau reseller," jelas Rinny.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Havid Vebri

Terbaru
TERPOPULER
TOPIK TERPOPULER