CLOSE [X]
ads

Tips Sukses Usaha Masakan Ayam Tradisional, Menu Lama yang Banyak Penggemar

Reporter: Francisca Bertha Vistika
Sabtu, 01 Januari 2022 | 10:11 WIB
Tips Sukses Usaha Masakan Ayam Tradisional, Menu Lama yang Banyak Penggemar

ILUSTRASI. Ayam Goreng Bumbu Kuning


MOMSMONEY.ID -  Menu ayam banyak penggemarnya, hingga tak terhitung juga pelaku usaha yang menawarkan olahan ayam. Meski ramai menu modern dari berbagai negara menyerbu negara kita, toh hidangan dengan racikan bumbu khas Indonesia tetap disukai. Hanya saja, pelaku bisnisnya harus pintar mencari cara agar dapat bersaing. 

Agus Pramono, pemilik warung Ayam Bakar Mas Mono bilang bisnis kuliner ini unik, tidak seperti bisnis lain. Banyak hal-hal kecil yang harus diperhatikan jika bisnis mau berkembang. Misalnya saja, harga tidak salah, porsi tidak salah, merek tidak salah, tapi karena pelayanan lama, pembeli bisa kabur. Atau, bisa juga, warung sepi hanya karena tukang parkir tidak ramah.

Usaha kuliner ayam juga berisiko dengan fluktuasi harga bahan baku, yang kadang melambung tinggi. Kalau sudah begitu, Mono yang awalnya buka warung ayam bakar kakilima pada tahun 2001 di depan Universitas Sahid, Jakarta ini, tidak serta merta menaikkan harga. Harga jual ayam bakarnya baru naik ketika ada kenaikan upah minimum regional (UMR) dan harga ayam bakar di sekitar sudah ikut naik pula.

Baca Juga: Mau Kulit Sehat dan Bercahaya? Ini Daftar Makanan yang Patut Anda Konsumsi

Nah, Mono bilang, yang membedakan ayamnya dengan ayam bakar milik kompetitor adalah proses memasaknya sehingga membuat ayam empuk sampai tulang, tapi tidak mudah hancur. Awal mendirikan bisnis ini, ia hanya butuh Rp 500.000 saja dan digunakan untuk membeli ayam. Waktu itu ia baru bisa menjual sekitar 20 porsi sehari.

Sekarang ini, ada 10 cabang dari Ayam Bakar Mas Mono dan tiga cabang yang franchise. Mas Mono juga membuka Ayam Bakar Mas Mono (ABMM) Express, yang fokusnya adalah untuk menerima pesanan online. Salah satunya sudah buka di Jl. Sudirman. Targetnya, iaa bisa menambah ABMM Express hingga 10 gerai.

"Ini tempat lebih kecil, tenaga kerjanya juga sedikit. Daripada sewa tempat mahal dan mubazir," kata Mono yang sempat mengalami penurunan omzet sebanyak 50% saat awal pandemi korona.

Pengusaha lain, Nancy Marduli, membuka warung Ayam Taliwang Mbok Lombok pada September 2010 di Cengkareng, Jakarta Barat. Ide awalnya karena Nancy sangat suka ayam taliwang. 

"Tapi selalu ketemunya yang pedas, sedangkan saya tidak bisa makan pedas. Makanya kepikiran buat yang bermacam level agar yang tidak bisa makan pedas juga tetap bisa menikmati menu unik khas Indonesia ini," kata Nancy yang menggelontorkan modal awal Rp 1,2 miliar, termasuk untuk membeli ruko.

Baca Juga: Kolesterol Tinggi? Simak 4 Cara Diet yang Bisa Turunkan Kolesterol

Maka, pekerjaan pertama Nancy saat membuka warung adalah berpromosi bahwa ayam taliwang yang ditawarkan, tersedia dalam beberapa level pedas, bahkan tidak pedas. Sekarang ini, Nancy mengatakan bahwa kapasitas produksi per harinya bisa sekitar 200 ekor ayam. 

Nancy juga terdampak pandemi korona, mengalami penurunan omzet. Ayam yang sudah telanjur disimpan untuk stok, lalu diolah dan dibagikan lewat bakti sosial. Selain itu, Nancy mendukung petani dan UKM lokal dengan membeli bahan baku dari pasar tradisional. Hanya untuk bumbu spesial khas taliwang, yakni terasi, tidak bisa didapatkan di Jakarta.

Nah, untuk bisa bertahan di tengah kondisi harga bahan baku yang fluktuatif, Nancy tidak serta-merta menaikkan harga ayamnya, melainkan ia mengontrol stok dan menyesuaikan dengan perkembangan penjualan.

Justru yang jadi tantangan baginya adalah soal tenaga kerja. Guna menghasilkan tenaga kerja yang sesuai harapan, Nancy harus melakukan pendekatan, pelatihan, bimbingan, dan komunikasi.

Selain itu, ada juga tantangan dari cara berpromosi. Dulu cara pemasarannya hanya menyebarkan brosur ke sekitar, sekarang ia harus menggunakan media sosial. 

Beda lagi dengan Ayam Goreng Kalasan di Medan Sumatra Utara. Restoran yang sudah berdiri sejak 1983 ini harus putar otak agar dagangannya tetap laris manis saat pandemi. Alhasil, Ayam Goreng Kalasan menjual menjual frozen food dengan pemesanan via whatsapp untuk menu tertentu.

"Tidak disangka respons pelanggan sangat baik, bahkan beberapa kali kami mengirimkan untuk dikirim ke luar kota," kata Amelia Dwi Adinda, marketing Ayam Goreng Kalasan Medan.

Setelah program frozen food berhasil, Ayam Goreng Kalasan melakukan sistem open pre order untuk ayam goreng dan ayam panggang yang siap disantap. Caranya dengan melakukan sistem pemesanan selama 3 hari sebelum akhirnya diambil atau dikirim oleh para pelanggan ke outlet Iskandar Muda.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Hendrika

Terbaru