CLOSE [X]
ads

Sebelum Membeli, Kenali Dulu Seluk Beluk Uang Kripto dan Penggerak Harganya

Reporter: Dupla Kartini, Jane Aprilyani
Minggu, 13 Maret 2022 | 09:30 WIB
Sebelum Membeli, Kenali Dulu Seluk Beluk Uang Kripto dan Penggerak Harganya


MOMSMONEY.ID - Investasi mata uang kripto atawa cryptocurrency kian populer di dalam negeri, terutama bagi kalangan milenial yang gemar berselancar di dunia maya. Buktinya, jumlah investor dan nilai transaksi kripto berkembang pesat belakangan ini.

Catatan Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo), ada lebih dari 11 juta investor pada 2021, naik pesat ketimbang tahun sebelumnya hanya 4 juta. Volume transaksi sepanjang tahun 2021 telah mencapai Rp 859,4 triliun atau rata-rata harian Rp 2,35 triliun.

Peluang cuan fantastis dari lonjakan harga, bikin banyak orang kepincut mengoleksi ataupun trading aset kripto. Tapi, sebelum menempatkan uang di wahana investasi alternatif ini, penting untuk mengenali karakteristiknya. Agar Anda siap menerima konsekuensi cuan maupun rugi di kemudian hari.

Mata uang kripto adalah aset digital alias virtual, yang dirancang sebagai alat pertukaran di jaringan internet. Aset kripto menggunakan kriptografi (kode rahasia) untuk mengamankan transaksi keuangan, mengontrol proses pembuatan unit baru dan memverifikasi transfer aset, yang semuanya tercatat dalam jaringan buku besar Blockchain.

Berbeda dengan sistem perbankan yang terpusat, kripto menggunakan kontrol terdesentralisasi (tersebar) alias tak bergantung pada otoritas tertentu untuk memvalidasi data. Setiap server berpartisipasi memvalidasi transaksi. Dus, akan sulit mengubah atau menduplikasinya. Dengan uang kripto, pihak ketiga seperti bank, tidak lagi berperan pada transaksi antar dua pihak.

Baca Juga: Jenis-Jenis Tanaman Hias Daun yang Banyak Diminati

Setiap mata uang kripto punya whitepaper yang dirilis oleh tim proyek. Dalam dokumen diuraikan konsep, tujuan, teknologi, dan roadmap yang direncanakan. Bisa dibilang, kesuksesan proyek menjadi fundamental aset kripto.

Bitcoin (BTC) adalah kripto terpopuler dan dianggap sebagai mother of crypto. Sebagai pionir di 2009 silam, kripto rancangan Satoshi Nakamoto ini menguasai pasar dengan market cap terbesar. Mengutip Coinmarketcap, nilai kapitalisasinya sekitar US$ 723 miliar.

Tujuan utama BTC adalah menjadi mata uang pengganti uang fiat. Dengan teknologi Blockchain-nya, kita dapat mengirim koin virtual ini ke siapa saja di dunia tanpa perlu perantara (bank). Sebagai gantinya, semua transaksi diproses, dan diamankan oleh ribuan server yang menjalankan program BTC.

Hanya, BTC saat ini belum menjadi mata uang fungsional di global, lantaran mendapat gempuran dari regulator yang menganggapnya sebagai ancaman bagi sistem moneter yang sudah ada. Meski begitu, sudah ada negara dan merchant yang menerimanya sebagai alat tukar.

Di dunia ini, nantinya hanya akan ada 21 juta BTC. Batasan itu dibuat Satoshi untuk menjadikannya langka dan mengendalikan inflasi, yang mungkin timbul dari pasokan tak terbatas. Jika suplai terbatas, nilainya pada akhirnya akan naik. Inilah alasan sejumlah kalangan mulai mengkategorikan BTC sebagai store of value, layaknya emas.

Bitcoin hanya bisa diproduksi lewat proses mining alias menambang. Penambang menjalankan komputer khusus untuk memecahkan kriptografi rumit guna memvalidasi transaksi bitcoin yang disebut Proof of Work (PoF). Bagi yang sukses, diberikan reward sejumlah BTC. Diperkirakan koin ini baru habis ditambang pada tahun 2140.

Baca Juga: 6 Bahan Rumahan untuk Mengobati Kulit Anak yang Terbakar Matahari

Popularitas bitcoin memacu lahirnya alternative coin (altcoin). Sudah lebih dari 1.000 altcoin yang beredar. Yang populer misalnya ethereum (ETH), tether (USDT), litecoin (LTC), dan solana (SOL).

Ethereum digandrungi karena blockchainnya mirip infrastruktur. Berkat smart contract, bisa menciptakan ekosistem dengan berbagai fitur, mulai dari peluncuran token baru sampai jual beli karya digital (NFT). Di blockchain Ethereum, penambang dihargai dengan reward mata uang ether (ETH).

Baru-baru ini, giliran solana yang naik daun, sebab digadang-gadang sebagai pesaing ethereum. Solana memiliki blockchain tercepat di dunia, yang memungkinkan transaksi kilat hingga 70.000 transaksi per detik.

Editor: Hendrika

Terbaru