CLOSE [X]
ads

Kurangi Konflik, Ini 4 Jurus Berkomunikasi dengan Anak Remaja!

Reporter: Ana Risma
Senin, 17 Januari 2022 | 16:45 WIB
Kurangi Konflik, Ini 4 Jurus Berkomunikasi dengan Anak Remaja!

ILUSTRASI. 4 cara praktis bagi orangtua untuk berkomunikasi dengan anak remaja agar terhindar dari konflik.


MOMSMONEY.ID - Sebagian besar anak-anak termasuk usia remaja cenderung menjadi defensif ketika orang tuanya terlalu mendorong mereka dalam hal apapun. Bahkan, anak remaja dapat menjadi begitu reaktif dan mengabaikan orang tuanya karena hal tersebut. Anak dapat meledak-ledak dalam kemarahan atau berdiam diri karena enggan untuk menjelaskan apa yang mereka rasakan.

Berdiam diri atau meledak-ledak adalah dua cara yang dilakukan remaja untuk mengelola stres dan mempertahankan diri. Faktanya, reaksi yang demikian dapat menjadi satu-satunya cara bagi remaja untuk mengetahui bagaimana berkomunikasi ketika keadaan berubah intens dan bukan tidak mungkin akan menyebabkan lebih banyak konflik.

Untuk meminimalkan terjadinya konflik antara Anda dan anak, inilah 4 aturan yang perlu diterapkan saat berkomunikasi dengan anak remaja sebagaimana dilansir dari Empowering Parents.com.

Baca Juga: 5 Cara untuk Membantu Meningkatkan Kepercayaan Diri pada Anak Remaja yang Pemalu

1. Cobalah memahami anak meski Anda tidak mengerti

Tidak peduli seberapa sulitnya ini, cobalah untuk memulai interaksi penuh perhatian dengan anak remaja bahkan jika Anda tidak sepenuhnya setuju atau tidak cukup memahami apa yang mereka bicarakan.

Misalnya, saat menjumpai anak remaja Anda sedang mengobrol secara online dengan teman-temannya padahal saat itu adalah waktunya bagi mereka untuk mengerjakan PR, maka jangan buru-buru memarahinya. Sebaiknya, tanyakan terlebih dahulu secara baik-baik mengapa mereka mengobrol di waktu belajar. Setelah anak menjelaskan dan Anda tahu apa yang sebenarnya terjadi, ingatkanlah anak perihal kewajibannya untuk mengerjakan tugas sekolah sekaligus mendiskusikan cara terbaik untuk mengatur waktu.

Intinya, cobalah untuk menempatkan diri Anda pada posisi anak terlebih dahulu sebelum memberi tahu mereka apa yang perlu diubah. Dengan cara ini, anak  cenderung akan mendengarkan perkataan Anda dengan baik alih-alih membela diri untuk melawan.

2. Hindari untuk menjadi terlalu emosional

Emosi tak terkendali adalah musuh bagi para orang tua ketika mencoba menghadapi anak remaja dengan segala perilakunya. Meski Anda tidak menyukai cara anak berperilaku atau berpikir, namun jauhkanlah emosi bahkan jika perilaku mereka begitu memengaruhi Anda.

Kendati sulit, namun sikap yang demikian merupakan keterampilan yang dapat dipelajari sama halnya dengan keterampilan lainnya. Tanamkanlah pada diri Anda bahwa apa yang Anda lakukan merupakan tugas orang tua dan bukan tugas pribadi.

Dikarenakan anak remaja kemungkinan belum memiliki keahlian untuk membuat pilihan yang baik, jadi tugas orangtua adalah membantu membimbingnya ke pilihan yang lebih baik sehingga pada gilirannya mereka mampu mengembangkan keterampilan pemecahan masalah yang lebih baik. Sebisa mungkin, fokuslah hanya pada tugas sebagai orang tua karena hal ini akan mencegah Anda untuk menjadi terlalu emosional.

3. Ajukan pertanyaan yang tepat

Saat berkomunikasi dengan anak remaja, mintalah mereka untuk menyampaikan ide-idenya dan bersikap kolaboratif. Biarkan mereka melihat bahwa Anda percaya padanya. Ketika membiarkan anak melihat bahwa Anda memiliki keyakinan pada kemampuannya dan mereka memiliki ruang untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, itu akan mulai mengembangkan kepercayaan yang sejati pada diri anak.

Jangan mengajukan pertanyaan yang mampu memicu anak untuk bersikap defensif seperti “Mengapa kamu tidak bangun tepat waktu?” atau “Apa yang salah denganmu?”. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini hanya akan mengarah pada konflik alih-alih solusi.

Sebagai gantinya, cobalah untuk membuka percakapan dengan pertanyaan seperti “Apakah kamu punya ide atau solusi supaya kamu bisa bangun tepat waktu?”. Jika anak mengatakan tidak tahu, tawarkanlah beberapa ide milik Anda dan tanyakan mana yang kira-kira cocok untuknya. Selain itu, pastikan untuk memberi tahu anak Anda bahwa Anda akan selalu ada di sisinya untuk membantu menemukan solusi. Terakhir, dengarkan secara terbuka apa yang anak  katakan dan mintalah mereka untuk berpikir kritis tentang setiap pilihan.

4. Jangan lakukan apapun sebelum Anda dan anak tenang

Aturan praktis lainnya dalam hal berkomunikasi dengan anak remaja adalah menghindari untuk melakukan apapun sampai Anda dan anak sama-sama tenang. Faktanya, tidak menanggapi anak saat Anda atau anak sedang merasa kesal jauh lebih baik untuk dilakukan.

Ketika emosi dirasa sudah reda, barulah Anda bisa duduk dan berbicara dengan anak. Pasalnya, mencoba mengangkat topik yang sulit atau menyelesaikan konflik di tengah suasana yang panas dan tegang bukanlah hal yang bijak. Jadi, jika Anda atau anak sedang kesal, berhentilah sejenak dan kembalilah ketika  sudah memiliki kemampuan untuk mengatasi berbagai hal dengan cara yang lebih tenang.

Berusahalah untuk konsisten melakukan self-talk dan mengingatkan pada diri sendiri bahwa Anda tidak boleh melakukan apapun sebelum emosi kembali stabil. Lama-kelamaan, segala antagonisme yang ada akan berangsur menjadi ketenangan. Alhasil, pertengkaran antara Anda dan anak dapat diminimalkan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Ana Risma

Terbaru