CLOSE [X]
ads

Kiat Berinvestasi di Properti Agar Tidak Merugi

Reporter: Dikky Setiawan
Rabu, 28 Juli 2021 | 18:30 WIB
Kiat Berinvestasi di Properti Agar Tidak Merugi


MOMSMONEY.ID -Di tengah situasi ekonomi nasional yang belum stabil akibat dampak pandemi covid-19, membiakkan duit dengan cara berinvestasi menjadi salah satu pilihan masyarakat di negeri ini.

Salah satu investasi yang dinilai terbaik aat ini adalah investasi properti. Investasi properti dinilai stabil dan tetap menguntungkan terutama dalam jangka waktu yang panjang.

Tak salah, jika belakangan ini bisnis properti baik hunian, apartemen hingga ruko banyak dipilih karena dinilai aman dan tidak mudah tergerus oleh dampak inflasi dan kondisi lainnya.

Baca Juga: Jeli Berinvestasi Properti Laba pun Siap Menanti

Jika begitu, bagaimana cara berinvestasi yang baik, dan apa yang perlu diperhatikan dalam berinvestasi properti 

Berikut ini adalah tip sederhana yang dirangkum MomsMoney dari sejumlah perencana keuangan. 

Kiat berinvestasi di properti agar tidak merugi

Jika berinvestasi di properti, Anda harus siap merogoh kocek yang tebal sebagai modal awal untuk membeli tanah, rumah, kios, apartemen, ruko, kondotel atau aset properti lain. 

Karena itu, menurut Eko Endarto, perencana keuangan Finansia Consulting, usahakan Anda memiliki dana untuk membayar uang muka pembelian properti. 

Baca Juga: Ada kocok ulang indeks saham, ini yang perlu diperhatikan investor

Modal minimal yang harus Anda miliki untuk down payment adalah 20% sampai 30% dari harga properti. Jika memiliki kocek tebal, membeli dengan tunai keras (hardcash) atau tunai bertahap cukup dianjurkan asal tak mengganggu cashflow. 

Cara terbaik membeli dengan tunai adalah mengukur kemampuan finansial Anda. Eko memberi contoh. Anda berniat membeli properti seharga Rp 100 juta, 10 tahun mendatang. Itu berarti Anda harus menyisihkan penghasilan sebagai tabungan Rp 8,3 juta juta per tahun atau Rp 800.000 per bulan. 

Tentukan lokasi yang strategis 

Lokasi menentukan segalanya dalam berinvestasi di properti. Jika pemilihan lokasi tepat, keuntungan tinggi ada di depan mata. Ingat, fasilitas yang terdapat di lingkungan sekitar juga sangat menentukan.
 
Hindari membeli properti di lokasi yang jauh dari keramaian. Walau harga masih murah, belum tentu kawasan itu berpotensi menjadi daerah berkembang.

Upayakan pula jangan membeli properti, terutama tempat tinggal, yang sangat berdekatan dengan pasar, rumah ibadah, sekolah, atau rumahsakit. 

Baca Juga: Menilik potensi industri material penopang sektor infrastruktur

"Jarak dengan fasilitas umum sekitar 1 km dari properti yang akan dibeli," kata Risza Bambang, perencana keuangan dari keuangan Oneshildt . 

Jangan lupakan gaya hidup tetangga sekitar rumah, tingkat keamanan lingkungan, dan keramahan tetangga. Menurut Risza, jika membeli properti di daerah yang "salah", bukan mustahil Anda akan sulit menjualnya kembali. 

"Karena biasanya pembeli mencari properti yang lingkungan dan suasananya tenang," ungkap Risza. 

Tentukan tujuan investasi

Mike Rini, perencana keuangan dari Mitra Rencana Edukasi menambahkan, sebelum menentukan lokasi properti, Anda harus terlebih dulu menentukan tujuan investasi properti. Apakah Anda mau mendapatkan capital gain atau pendapatan tetap. 

Jika tujuannya mendapatkan pendapatan tetap, sebaiknya Anda mencari lokasi di daerah mapan. Artinya, pertumbuhan penduduk di daerah tersebut cukup padat.

Baca Juga: Cara Bijak Membeli Rumah atau Apartemen Melalui Sistem Over Kredit

Tapi, jika hanya ingin mencari keuntungan dari jual beli, Anda harus mencari lokasi di daerah pinggiran. Sebab, di daerah tersebut biasanya pertumbuhan harga cukup cepat. 

Periksa kelengkapan dokumen 

Jangan pernah membeli tanah, rumah, atau aset properti yang belum jelas statusnya atau masih dijaminkan kepada pihak lain. Hindari pula aset yang masih dalam sengketa di pengadilan karena kasus pembagian harta warisan, harta gono-gini perceraian, terganjal kasus pembebasan tanah, tak bersertifikat, objek sita jaminan, dan lain-lain. 

Sebaiknya aset seperti itu tidak dibeli karena risiko terjadinya sengketa di kemudian hari sangat besar. Pastikan pula aset yang Anda beli memiliki dokumen lengkap, seperti sertifikat tanah (SHM atau HGB), izin mendirikan bangunan (IMB), kalau ada bangunannya mintalah kopi cetak biru bangunan (blue print-nya), SPPT PBB tahun terakhir. 

Baca Juga: Kiat Membangun Bisnis Properti dengan Modal Terbatas

Periksa data-data pada dokumen tanah dengan kenyataan fisiknya (luas tanah, lokasi, masa berlaku, dan lain-lain). 

Satu hal penting lain, menurut Risza, Anda harus jeli dan cermat melihat lokasi properti yang akan dibeli. Apakah lokasi properti tersebut rawan penggusuran, misalnya. 

Memilih alternatif pembiayaan properti 

Seperti telah disebutkan, berinvestasi di properti dengan cara membeli tunai cukup dianjurkan. Namun, seringkali menunggu hingga dana terkumpul 100% untuk pembelian tunai membutuhkan waktu lama. 

Itu sebabnya, sebagian besar masyarakat kita membeli properti dengan memanfaatkan pendanaan pihak ketiga, khususnya perbankan. Berapa pun besar pinjaman yang Anda ambil untuk membeli aset properti, pastikan Anda mampu membayar cicilan bulanan (maksimal 30% dari pendapatan bulanan). 

Setelah bisa memastikan kemampuan membayar, Anda harus memilih pihak ketiga yang bisa memberikan pinjaman. Hal utama yang harus Anda perhatikan adalah tingkat suku bunga yang ditawarkan. 

Baca Juga: Menumpuk Harta agar Masa Depan Anak Berharga

Tujuannya adalah untuk menghitung kebutuhan dari tujuan investasi yang Anda rencanakan. Contohnya, Anda membeli properti untuk kebutuhan biaya pendidikan anak di masa depan.

Katakanlah, inflasi biaya pendidikan setiap tahunnya 15%. Maka, usahakan Anda mencari bank yang bisa menawarkan pinjaman dengan bunga tidak lebih dari 15% per tahun.

Bila bunga lebih besar dari itu, berarti Anda harus siap menombok biaya inflasi pendidikan, yang jadi tujuan investasi tadi. Hal ini juga berlaku ketika Anda memilih produk properti. 

Baca Juga: Investasi di reksadana dan aset kripto meningkat selama pandemi

Anda harus mencari produk properti di suatu daerah yang rata-rata kenaikan harganya (NJOP) sekitar 17% per tahun. "Sehingga, Anda masih mendapat keuntungan 2% per tahun," papar Eko. 

Pertimbangan lain, pahami dengan baik skema kreditnya, sistem bunga tetap atau mengambang, besar cicilan dan tenor yang tersedia dari bank pemberi kredit. Semuanya akan memberikan Anda kemudahan mengatur arus kocek sesuai dengan tujuan investasi. 

Harus jeli melihat harga 

Setelah menentukan lokasi tujuan investasi properti, langkah berikut yang harus Anda lakukan adalah melihat harga pasar properti. "Harga pasar properti biasanya tak terlalu jauh dari harga nilai jual objek pajak (NJOP)," tutur Risza. 

Menurut Mike Rini, semakin murah harga properti yang akan Anda beli, akan semakin menguntungkan pula bagi Anda. Pertumbuhan harga properti bisa diprediksi sebelumnya dalam jangka panjang ke depan. 

Jangan sampai Anda terjebak dalam harga properti semu. Salah satu cara yang digunakan penjual (KPR) adalah menciptakan harga semu, yakni dengan cara propaganda melalui bagian marketing atau iklan yang mengembar-gemborkan tiap periode tertentu harga propertinya sudah naik. 

Baca Juga: Tips alokasi investasi dan dana darurat di tengah ketidakpastian ekonomi

Padahal jika dicek ke pialang properti, harga di pasar sekunder masih lebih murah daripada harga yang disebut si pengembang. Ingat, bisa jadi strategi tersebut merupakan ulah para spekulan properti yang punya dana besar. Jika harga cepat naik maka properti yang dipasarkan dapat dijual kembali. 

Yang menentukan harga sebuah properti benar-benar naik adalah tingkat minat dan kebutuhan orang atas properti yang dijual itu. Usahakan Anda mengerti betul soal harga pasar properti, terutama di lokasi yang Anda incar. 

Rajin-rajinlah mengamati pergerakan harga properti dari forum-forum properti atau iklan-iklan baris di media massa. Jika cermat Anda bisa menemukan properti yang dijual di bawah harga pasaran. 

Hitung asumsi imbal hasil 

Menurut Mike Rini, investasi properti yang baik adalah yang bisa memberikan penghasilan kepada Anda baik berupa pendapatan tetap (dari sewa) maupun potensi kenaikan harganya (selisih harga jual beli).

Hitunglah berapa asumsi return hasil investasi yang bisa Anda dapatkan dari kenaikan harga tanah di daerah itu. 

Jika Anda mendirikan bangunan kos, hitung berapa harga sewa rata-rata yang wajar di daerah itu. Asalkan lokasi properti tepat dengan karakter dan kebutuhan pasar, harga akan perlahan merangkak naik. 

Baca Juga: Tips investasi apartemen untuk pemula saat pandemi

Asal Anda tahu, rata-rata tingkat keuntungan investasi rumah di Indonesia berkisar antara 10% sampai 25% per tahun. Jadi, Anda tinggal menentukan pilihan, investasi mana yang Anda sukai. 

Jangan lupa hitung biaya lain Jika harga properti yang Anda bidik sudah cocok dengan isi kantong, tahap selanjutnya adalah memperhatikan sejumlah biaya yang akan Anda tanggung. 

Biaya itu, antara lain, biaya pembelian tanah (biaya notaris, pajak, balik nama sertifikat, dan lain-lain) PBB tahunan, listrik, telepon, kebersihan, penjaga rumah, kos atau tanah yang Anda investasikan. 

Baca Juga: 10 Tips menjadi jutawan sebelum usia 30 tahun

Biaya perawatan properti harus Anda siapkan, termasuk interior dan renovasi. Ini bertujuan agar properti yang Anda investasikan layak dijual atau disewakan kembali. 

Mike bilang, hasil investasi properti akan berkurang lantaran pengeluaran biaya tadi. Jagalah agar pada masa investasi di tanah atau rumah, Anda bisa menekan biaya serendah mungkin. Kini keputusan investasi properti di tangan Anda. 

Jika Anda berani, silakan mencoba. 

Selanjutnya: Ini tips investasi properti dari Direktur Bestprofit Futures Syaiful Rachman

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Dikky Setiawan

Terbaru
TOPIK TERPOPULER